Apa itu Aspartam, dan Mengapa Aspartam Berbahaya? | Info Diabetes Mellitus

Apa itu Aspartam, dan Mengapa Aspartam Berbahaya?

April 16th, 2010 | Visited 82690 times, 2 so far today 5 Comments

Penderita diabetes atau kencing manis memang paling mudah terpancing dengan makanan yang manis. Maklum, memang makanan manis tidak diperbolehkan dikonsumsi oleh diabetisi. Tidak jarang seorang diabetisi mencoba menggunakan pemanis buatan untuk sekedar memuaskan kehausannya akan rasa manis dengan cara menggunakan pemanis buatan.

Pada tanggal 25 Maret 2010 yang lalu saya posting sebuah artikel tentang aspartam dengan judul Rumor Bahaya Aspartam Bukan Statement IDI. Nah kali ini saya sajikan sebuah artikel khusus tentang Aspartam kepada rekan-rekan diabetisi yang secara diam-diam (baca: membohongi diri sendiri) menggunakan pemanis buatan untuk mendapatkan rasa manis pada makanan dan minumannya. Sebaiknya Anda mengetahui secara lebih mendalam tentang apa itu aspartam? Dan mengapa aspartam berbahaya?

Aspartam adalah pemanis buatan yang tersusun dari 2 macam asam amino yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Ia ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schslatte sebagai hasil percobaan yang gagal. Asam aspartat dan fenilalanin sendiri merupakan asam amino yang menyusun protein, khusus asam aspartat, ia juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neurotransmiter).

Aspartam, dikenal juga dengan kode E951, memiliki kadar kemanisan 200 kali daripada gula (sukrosa), dan banyak dijumpai pada produk-produk minuman dan makanan/permen rendah kalori atau sugar-free. Nama dagang aspartam sebagai pemanis buatan antara lain adalah Equal, Nutrasweet dan Canderel.

Aspartame diproduksi oleh perusahaan kimia bernama Monsanto. masuk pasar Amerika sejak tahun 1981 dan di Inggris pada tahun 1982. Aspartame telah dipasarkan ke seluruh dunia sebagai pengganti gula dan dapat dijumpai pada banyak jenis minuman ringan untuk diet.

Senyawa kimia sejenis alkohol yang terdapat dalam Aspartame, di dalam lambung berubah menjadi formaldehid (formalin) yang kemudian mengalami perubahan menjadi senyawa asam yang bernama asam format, sehingga pada akhirnya menimbulkan peningkatan derajat keasaman dalam darah, atau asidosis metabolik.

Senyawa asam yang terbentuk tersebut serupa dengan racun pada sengat semut api. Ditengarai pula bahwa formaldehid yang terbentuk dapat terakumulasi dalam sel, kemudian bereaksi dengan berbagai enzim dan DNA di mitokondria maupun inti sel, sehingga berpotensi mencetuskan keganasan atau kanker pada pengguna jangka panjang.

Penelitian dengan tikus percobaan yang dilaporkan dalam majalah SCIENCE bulan Juli 2007, memperlihatkan bahwa dengan menggunakan kadar Aspartame yang lebih rendah dari dosis yang dikonsumsi oleh manusia, sudah dapat menyebabkan timbulnya kanker kelenjar getah bening (limfoma maligna) dan kanker darah (leukemia), dan bila menggunakan dosis lebih tinggi akan menimbulkan keganasan pada seluruh organ tubuh.

Sengaja atau tidak, zat berbahaya tersebut masuk ke tubuh lewat makanan maupun minuman yang dikonsumsi setiap hari. Berbagai problem kesehatan seperti tumor otak, keganasan kelenjar getah bening, leukemia, lupus, gangguan nyeri otot, dan kepikunan sebagai akibat perubahan kimiawi di jaringan otak dan berpotensi mematikan pada penderita Parkinson, belakangan ini banyak dikaitkan dengan merebaknya penggunaan Aspartame.

Hal tersebut hanya beberapa contoh dari sekian banyak masalah yang dapat terjadi akibat mengonsumsi Aspartame. Penderita diabetes atau kencing manis sering kali terpancing untuk menggunakan produk ini, tanpa menyadari bahwa mengonsumsinya dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kematian akibat koma ketoasidosis.

Bila ada produk yang mengklaim bahwa produk itu bebas gula, berhati-hatilah, karena hampir pasti mengandung Aspartame.

Analisa 164 penelitian yang telah dipublikasikan, dilakukan oleh Professor Ralph G Walton, dari Northeastern Ohio Universities College of Medicine, di mana dari 74 penelitian yang disponsori oleh industri yang menggunakan Aspartame dilaporkan bahwa tidak ditemukan adanya masalah,

sedangkan dari 90 penelitian independen yang tidak dibiaya oleh industri, 83 penelitian (92 persen) didapatkan satu atau lebih masalah gangguan kesehatan akibat pemberian Aspartame.

Belakangan diketahui, bahwa dari tujuh penelitian yang tidak ditemukan masalah, enam penelitian dilakukan di bawah pengawasan FDA (Food and Drug Administration), dan mantan anggota komisi di badan tersebut,

pada akhirnya bekerja pada industri Aspartame setelah mengeluarkan sertifikat tidak berbahaya. Keenam penelitian tersebut kemudian dikategorikan sebagai disponsori oleh industri.

Hal serupa terjadi dengan industri rokok. Seluruh penelitian yang disponsori oleh industri rokok sebelumnya menyebutkan bahwa rokok tidak menimbulkan masalah kesehatan. Ini menunjukkan bahwa kepentingan bisnis begitu kuat sehingga mengalahkan keselamatan masyarakat luas.

Tekanan besar yang diberikan oleh para peneliti independen dan organisasi kesehatan melalui pemerintah, barulah pada akhirnya memaksa industri rokok mencantumkan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh rokok.

Gejala Keracunan Aspartame

Berbagai gejala dapat timbul sebagai akibat keracunan Aspartame, pada umumnya dibagi menjadi tiga tipe. Pertama, reaksi keracunan akut yang timbul dalam kurun waktu 48 jam setelah mengonsumsi produk yang mengandung Aspartame.

Kedua, efek keracunan kronis dapat timbul dalam hitungan hari hingga tahun setelah mengonsumsi Aspartame jangka panjang. Ketiga, efek toksik yang tidak atau sulit dikenali oleh pengguna Aspartame.

Pada survei epidemiologis, dari 551 orang yang dilaporkan mengalami keracunan Aspartame, gejala yang timbul pada keracunan akut ialah mual, muntah, nyeri perut, mata kabur, pandangan menyempit, nyeri kedua bola mata, hingga kebutaan, jantung berdebar, dan sesak napas.

Pada keracunan kronis, gejala yang sering timbul adalah perubahan pola menstruasi, rambut rontok, rasa haus yang berlebihan, nyeri pada persendian, mudah mengalami infeksi.

Sakit kepala, telinga berdenging, pusing, penurunan daya ingat, depresi, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan adalah efek toksik yang sering kali tidak disadari, baik oleh dokter maupun yang bersangkutan, sehingga menjalani berbagai macam pemeriksaan maupun penggunaan obat yang tidak perlu.

Bila ada gejala seperti tersebut, yakinkan terlebih dahulu bahwa tidak ada riwayat mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung Aspartame.

Berikut ini langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan. Pertama, lindungi diri sendiri. Hentikan mengonsumsi segala jenis makanan maupun minuman yang mengandung Aspartame. Selalu baca setiap label makanan dan minuman yang akan Anda beli atau konsumsi untuk memastikan ada tidaknya kandungan zat tersebut.

Kedua, ganti Aspartame dengan pemanis yang sehat. Carilah pemanis yang berasal dari bahan alamiah, bukan pemanis buatan. Jangan terkecoh dengan reklame produk pemanis buatan yang beredar luas di pasaran.

Ketiga, berbagi informasi dengan teman, kerabat dan siapapun yang Anda kasihi, agar tidak mengonsumsi Aspartame dengan dosis sekecil apapun.

Keempat, akses informasi tentang Aspartame yang selalu melakukan pembaruan data melalui internet sangat penting untuk diketahui oleh publik. Salah satu portal yang dapat diakses adalah Aspartame and Nutrasweet Toxicity Info Center.

Sumber : Aspartame and Nutrasweet Toxicity Info

Jangan lupa melanjutkan membaca posting artikel saya tentang Jenis Pemanis Buatan Yang Perlu Diketahui Diabetisi.

Demikian informasi tentang Apa itu Aspartam, dan Mengapa Aspartam Berbahaya?. Semoga bermanfaat bagi Anda.

Pesan artikel via email

Pastikan selalu mendapatkan update terbaru dari blog ini, Masukkan email Anda: (Email Anda akan kami rahasiakan).

Jangan lupa lakukan konfirmasi di email Anda.

5 Responses to “Apa itu Aspartam, dan Mengapa Aspartam Berbahaya?”

  1. Eko Setiawan says:

    Kalo tropicana slim apakah juga mengandung aspartame?
    yang dimaksud dengan pemanis dari bahan alami apakah diabetesi tetap menggunakan gula pasir tetapi dalam dosis kecil?
    mohon bisa diberikan merek dagang yang memproduksi pemanis dari bahan alamiah….
    Terima kasih sebelumnya…..

  2. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda tentang TropicanaSlim karena ini menyangkut kode etik, sebaiknya anda anda tanyakan langsung ke pembuatnya, coba hubungi situsnya disini.

    Saya pernah membaca beberapa artikel tentang pemanis dari bahan alami, jika anda membutuhkan bisa membacanya di:
    http://www.truestarhealth.com/Notes/1841005.html
    http://www.truestarhealth.com/Notes/2169001.html
    http://curezone.com/foods/sugarpage.asp

    Berikut saya salin sebagian posting dari situs tersebut yang menyebutkan bahwa STEVIA mengandung karbohidrat terendah dibanding dengan lainnya sbb:

    Nutrition Highlights

    Barley malt (flour), 1 cup (120g)
    Calories: 585
    Protein: 16.6g
    Carbohydrate: 127g
    Total Fat: 3.0g
    Fiber: 11.5g
    *Excellent source of: Iron (7.6mg), Magnesium (157mg), and Zinc (3.3mg)
    *Good source of: Vitamin E (3.2 IU)

    Brown rice syrup, 1/4 cup (75g)
    Calories: 170
    Protein: 0.0g
    Carbohydrate: 42g
    Total Fat: 0.0g
    Fiber: 0.0g

    Concentrated fruit sweetener, 2 Tbsp (15g)
    Calories: 60
    Protein: 0.0g
    Carbohydrate: 15g
    Total Fat: 0.0g
    Fiber: 0.5g

    Honey, 1 Tbsp (21g)
    Calories: 64
    Protein: 0.06g
    Carbohydrate: 17.3g
    Total Fat: 0.0g
    Fiber: 0.042g

    Maple syrup, 1 Tbsp (20g)
    Calories: 52
    Protein: 0.0g
    Carbohydrate: 13.4g
    Total Fat: 0.04g
    Fiber: 0.0g
    Stevia, 1 packet
    Calories: less than 1.0
    Protein: 0.0g
    Carbohydrate: less than 1.0g
    Total Fat: 0.0g
    Fiber: 0.0g

    Dan yang terbaru saya baca adalah tentang monk fruit (luo han guo) yang dikatakan merupakan pemanis alami pertama yang diakui oleh FDA, artikelnya bisa anda baca disini.

  3. etha......... says:

    apakah produk tiansi yang menggunakan pemanis buatan aspartam itu berbahaya?

  4. Felicia Chandra says:

    Saya ingin share link dibawah ini
    http://en.wikipedia.org/wiki/Aspartame_controversy

    Kalau link tidak terbuka silahkan ke http://en.wikipedia.org dan ketik ‘Aspartame controversy’ di search box

    Logically, kalau Aspartame berbahaya mengapa WHO, FDA dan BPOM tidak menarik bahan makanan dan minuman yang mengandung Aspartame?
    Selama kita tahu ADI (Acceptable Daily Intake) dari produk yang mengandung Aspartame maka kita akan safe.

  5. Dwi Joko says:

    Menurut saya, aspartam masih aman dikonsumsi dengan kadar sesuai yang direkomendasikan oleh Pihak berwenang, seperti BPOM, Depkes. Tahun lalu pun pernah ada polemik mengenai aspartam. dan pihak POM mengeluarkan press release (bisa dibaca dialamt di bawah ini). Terima kasih.

    http://www.pom.go.id/public/press_release/detail.asp?id=62&qs_menuid=7

 

Leave a Reply to this Post

*

Facebook Fans Page
Kategori

Statistik Blog