Kencing Manis – Diabetes Jadi Epidemik di Eropa | Info Diabetes Mellitus

Kencing Manis – Diabetes Jadi Epidemik di Eropa

October 12th, 2008 | Visited 16070 times, 1 so far today 0 Comments

red crossKencing manis | Jumlah penderita diabetes atau kencing manis meningkat dengan pesatnya sehingga diabetes atau kencing manis telah menjadi epidemik di Eropa dan hal itu dapat mengakibatkan tersedot sebagian besar anggaran pelayanan kesehatan dalam masa sepuluh tahun mendatang, terutama di Eropa Timur, seorang ahli mengingatkan Ahad.

Lebih dari 53 juta warga Eropa atau 8,4% dari populasi orang dewasa adalah penderita penyakit diabetes atau lebih dikenal dengan sebutan kencing manis.

Angka terbaru yang dikeluarkan oleh Federasi Diabetes Internasional (IDF) memperkirakan jumlah tersebut dapat mencapai hingga 9,8% penderita diabetes diantara kalangan orang dewasa di Eropa pada tahun 2025.
“Hal yang menjadi tujuan adalah memutar balik arah perkembangan pertumbuhan penderita penyakit yang bersifat diturunkan (genetis) karena memiliki kemungkinan besar untuk menghabiskan dana pelayanan kesehatan ,” kata Profesor Martin Silink, presiden IDF yang baru terpilih.

Negara-negara maju menghabiskan sekitar 10% dari anggaran pelayanan kesehatan tahunan untuk semua terapi dan pelayanan yang berkaitan dengan penyakit diabetes.

Namun penyakit yang sering kali dikatakan berhubungan erat dengan kelebihan berat badan atau obesitas itu kini memiliki angka rata-rata kenaikannya sekitar 7 juta kasus baru per tahun untuk tingkat dunia.
“Anggaran pelayanan kesehatan tak akan dapat menanggung pertambahan jumlah biaya yang diakibatkan oleh kenaikan rata-rata jumlah penderita diabetes dengan segala kondisi dan komplikasinya,” kata Silink.
IDF yang mengemukakan hasil temuan surveinya pada pertemuan para ahli penyakit dalam di Copenhagen, Denmark memperkirakan negara-negara Eropa Timur memiliki risiko terbesar untuk mengalami masalah ekonomi yang ditimbulkan akibat epidemik diabetes.

Usia pasien yang lebih muda
Walaupun angka rata-rata prevalensi di Eropa Timur sama dengan yang terdapat di Eropa barat dengan kisaran 2% di Eslandia hingga 11,8% di Jerman, infrastruktur kesehatan negara-negara Eropa Timur berisiko lebih besar mengalami gangguan karena perkembangan ekonominya yang lebih lambat dan usia rata-rata penderita yang lebih muda.

“Apa yang dapat kita simpulkan dari perkembangan pertambahan kasus diabetes atau kencing manis pada tingkat dunia bahwa dalam pertumbuhan ekonomi saat ini usia produktif antara 40 hingga 65 tahun adalah kelompok terbanyak yang menderita penyakit tersebut, sementara di negara-negara yang jauh lebih mapan perekonomiannya angka rata-rata usia penderita diabet diatas usia tersebut, sehingga kisaran usia penderita jauh lebih kecil” kata Silink menambahkan.

Maka dalam kondisi pertumbuhan jumlah penderita diabetes seperti saat ini jika terus menerus berkelanjutan maka perusahaan-perusahaan tempat sipenderita bekerja, serta perusahaan asuransi kesehatan dan pemerintah dapat menghadapi masalah membengkaknya biaya untuk menanggulangi masalah pelayanan kesehatan termasuk biaya kondisi cacat yang diakibatkan.
Diabetes adalah satu penyakit kronis yang terjadi saat tubuh seseorang tidak dapat memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif.

Penyakit tersebut menimbulkan risiko terkena penyakit jantung, stroke (pendarahan di otak), kebutaan, gagal ginjal, serta gangguan pada syaraf dan peredaran darah yang dapat menyebabkan terjadinya pembusukan atau borok pada kaki yang harus diamputasi.
Sebagian besar kasus diabetes atau kencing manis baru adalah diabetes type II yang dapat dicegah dengan pola hidup sehat dengan menambah jumlah dan frekwensi olah fisik dan pola makan yang sehat, demikian tertulis dalam panduan IDF.

Silink mengatakan masyarakat internasional harus menangani masalah epidemik diabetes secara lebih serius sebab jika tidak, akan membahayakan kesehatan dan kehidupan jutaan manusia.
“Masalah epidemik diabetes adalah masalah global, maka yang kami (IDF) sarankan adanya kesadaran masyarakat luas akan bahayanya penyakit itu dan kami (IDF) telah meminta resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB mengenai diabetes,” kata Silink.

Sumber : www.kapanlagi.com


Pesan artikel via email

Dapatkan pemberitahuan update terbaru dari kami via email, Enter your Email here:

Jangan lupa lakukan konfirmasi di email Anda

Leave a Reply to this Post

*


    Statistik Blog