Ibu Fransis, Dokter Gigi yang Peduli dengan Diabetes | Info Diabetes Mellitus

Ibu Fransis, Dokter Gigi yang Peduli dengan Diabetes

June 16th, 2010 | Visited 114531 times, 1 so far today 3 Comments

healthArtikel ini berawal dari komentar Ibu Fransis yang muncul di blog ini. Saya sengaja tampilkan komentar itu sebagai sebuah posting disini. Rasanya terlalu sayang komentar Ibu Fransis itu tampil di kolom komentar pengunjung. Saya menilai komentar Ibu Fransis lebih pantas mengisi di halaman postingan daripada muncul di kolom komentar karena nilai komentarnya yang sangat berharga untuk disebarluaskan kepada rekan-rekan diabetisi. Untuk memahami keseluruhan artikel ini saya anjurkan anda mengikuti kronologi dialog komentar antar Ibu Titik, Jan dan Ibu Fransis disini.

Berikut komentar/informasi yang diberikan oleh Ibu Fransis saya postingkan disini untuk rekan-rekan diabetisi.

Komentar pertama:

To : Titik
Papa saya sudah meninggal 9 September 2009, sebelumnya sempat diamputasi kakinya di RS Siloam Kebun Jeruk. Saya sudah menggunakan berbagai macam cara termasuk dengan madu pramuka,tp tidak bisa.

Saya adalah dokter gigi dan dosen saya pembuat obat ties yang berisi metronidazole menyebutkan sesama dosen sering membeli ties ini dan digunakan untuk mengobati luka diabetes dan berhasil.

Sewaktu papa saya sedang dirawat di RS Siloam ada seorang perawat mengatakan/menanyakan maukah bapak diberi metronidazole pada lukanya. Perawat tersebut mengatakan pernah ada pasien yang tidak jadi diamputasi kakinya karena lukanya sudah kering dengan metronidazole ini.Tapi prosesnya agak lama.

Metronidazole adalah antibiotik untuk kuman anaerob yang biasanya kita (para dokter gigi) menggunakan untuk kuman2 pada gigi yang biasanya adalah kuman anaerob (kuman yang bisa hidup di tempat yang tidak ada oksigen). Kuman pada diabetes ternyata adalah sama yaitu kuman anaerob.

Dari 2 kasus tersebut (dosen saya dan perawat), maka saya sebagai orang yang bernasib sama dengan Saudara Titik menyarankan untuk mbak titik memberikan metronidazole pada luka diabetesnya.

Saudara jauh saya juga pernah dan sembuh di RS Husada Jakarta Pusat. Saya mengetahuinya ketika saudara saya itu mengunjungi di rumah duka meninggalnya ayah saya. Menurut saudara saya itu di RS Husada dilakukan penyedotan nanah pada luka diabetesnya

Saya sangat berharap ayah saudara Titik bisa sembuh, jangan sampai seperti papa saya yang sudah terlambat. Luka diabetes ini harus segera dilakukan tindakan sesegera mungkin, jangan sampai terlambat

Semoga info saya ini bisa bermanfaat untuk saudara Titik.

Komentar kedua:

To : Titik, Jan dan para penderita diabetes

Metronidazole adalah antibiotik yang bisa dibeli di apotik, berupa tablet yang biasanya diminum, tp untuk kasus luka ini tablet ini bisa ditumbuk shg menjadi bubuk/puyer yang dapat diaplikasikan pada luka diabetes. Tetapi sebelum diaplikasikan mungkin bisa dicuci lukanya dulu seperti biasa di rumah sakit (cuci luka dengan h2o2 dan lain2). Semua alat pencucian harus dilakukan dengan alat yang sudah disterilkan (harus benar2 steriil)

Kandungan utama pada ties adalah metronidazole. Ties ini bisa dibeli di Fakultas Kedokteran gigi kampus B universitas trisakti lt 4 (toko yang menjual alat2 kedokteran gigi). Atau bisa juga langsung dengan dosen saya (si pembuat ties), tapi saya bisa menyebutkan beliau. Ties ini ada 2 macam (kuning dan hitam). Nanti saya akan tanyakan dengan beliau ties mana (yang hitam atau kuning) yang dulu sering dibeli oleh teman rekan sesama dosen itu.

Menurut saya, bila sudah mencoba berbagai macam cara, tapi tidak berhasil, lebih baik diamputasi saja. Berdasarkan pengalaman saya, saya mencoba obat2an yang dioles2 tapi tidak berhasil, malah kondisi papa saya menurun drastis. Jadi papa saya ini meninggal bukan karena diabetes lagi, melainkan karena kondisinya yang sudah lemah. Beliau meninggal 1 minggu setelah amputasi kaki. Jadi saya sarankan untuk mencoba obat2an jangan terlalu lama karena infeksinya bisa menyebar ke jantung, paru-paru dan juga ginjal.

Saya juga menyesal karena terlalu lama mencoba coba terlalu lama terutama pencucian luka di ketapang yang menurut saya kurang steril dan si dokter tidak terlalu memperhatikan susternya dalam mencuci luka pasien karena pasiennya yang terlalu banyak.

Papa saya pertama kali tahu kalau ada luka di kaki sekitar bulan maret awal, kemudian dilakukan pencucian luka saja, makin hari makin bertambah parah, kemudian sudah disarankan oleh dokter di sebuah rumah sakit untuk di amputasi, waktu itu hanya ibu jarinya saja, tapi papa saya tidak mau dan mencari alternative lain. Akhirnya bertemu dengan klinik di ketapang yang seluruh kondisi kaki pasiennya hampir sama dengan papa saya. Papa saya sudah berpikir ada titik terang di klinik ketapang itu. Tp tetap tidak bisa juga sampai 3 jari kakinya lepas sendiri(putus sendiri). Sempat mencoba arak, madu pramuka, tp tidak berhasil. Akhirnya akhir bulan agustus kita memutuskan untuk membawa papa saya itu ke RS Siloam Kebun Jeruk Jakarta Barat untuk diamputasi kakinya sampai diatas dengkul. Yang dulunya hanya disarankan untuk amputasi ibu jarinya saja, sekarang harus sampai dengkul karena kita terlalu lama mencoba obat2an lain.Jadi saya sarankan jangan terlalu lama untuk mencoba2.

Semoga ini bisa bermanfaat bagi semua khususnya penderita diabetes dan saya yakin papa saya yang berada di surga pun sangat bahagia bila pengalamannya itu bisa membantu teman2 sesama penderita diabetes khususnya mengenai luka diabetes.

Thanks

Update: 17/06/2010 | 21:35 wib

(Atas permintaan Ibu Fransis saya lakukan update ucapan terima kasih kepada RS Siloam Kebun Jeruk Jakarta sbb:)

Saya (red: Ibu Fransis) mengucapkan terima kasih kepada tim dokter RS Siloam Kebun Jeruk Jakarta Barat yang sudah membantu mengobati papa saya tanpa mengambil uang bayaran (gratis), walaupun mereka tidak mengenal saya. Dikarenakan keibaan mereka terhadap kondisi papa saya dan kekurangan biaya dari pihak keluarga.

Catatan :

Artikel diatas sudah saya edit (delete) alamat e-mail Ibu Fransis untuk melindungi privacy alamat email Ibu Fransis agar tidak disalahgunakan oleh spammer. Apabila Anda ingin berkomunikasi dengan Ibu Fransis Anda bisa tinggalkan di kolom komentar dan akan saya teruskan kepada beliau via email.

Update (02/12/2010):

Silahkan baca kontribusi artikel yang di tulis khusus untuk blog ini oleh Ibu Fransis Ferorita berjudul : Hubungan Diabetes Terhadap Kesehatan Gigi dan Mulut


Pesan artikel via email

Dapatkan pemberitahuan update terbaru dari kami via email, Enter your Email here:

Jangan lupa lakukan konfirmasi di email Anda

3 Responses to “Ibu Fransis, Dokter Gigi yang Peduli dengan Diabetes”

  1. rika d says:

    Ibu saya seorang penderita diabetes selama 20 tahun, alhamdulilah baik2 saja hingga saat ini. Sejak dini saya berusaha mengontrol makanan, tapi ternyata tanpa diduga 2 mg lalu saya dinyatakan menderita DM,dan ternyata meskipun memeiliki ibu yang menderita dm, pengetahuan saya ttg DM sangat tipis.
    Saya ingin tahun sudah berapa lama ayah dr Francis menderita diabetes dan awal terjadinya luka bagaimana, karena kalau bisa kita kan menghindari terjadinya luka. terimakasih

  2. Pro: Rika,
    Pertanyaan anda akan saya teruskan ke ibu Drg. Fransis.
    Thx

  3. Pro: Rika, berikut adalah jawaban dari ibu Drg. Fransis:
    Bila tidak salah papa saya menderita diabetes sejak saya kelas 3 SD kira2 dari th 1990,memang diabetes papa saya tidak terkontrol,dia minum sendiri (padahal,setau saya obat diabetes biasanya dosisnya selalu bertambah),beliau memang agak sulit bila diberitahu untuk pergi ke dokter dan pantang makanan(istilahnya agak bandel)dan beliau suka sekali dengan permen

    Awal terjadinya luka di kaki juga tidak disadari oleh beliau,padahal selama ini luka2 kena garukan karena digigit nyamuk selalu sembuh,mungkin sewaktu luka di kaki,kadar gula darahnya sedang tinggi,maka terjadilah luka tidak bisa sembuh dan sampailah menjadi ganggren

    Saya pernah baca,organ yang sering terjadi luka pada diabetes adalah kaki dan biasanya tanpa disadari oleh penderitanya,maka pada penderita diabetes diusahakan untuk terkontrol gula darahnya dan mungkin bila bepergian selalu menggunakan sepatu,mungkin itu saja yang bisa saya sarankan dan terima kasih atas pertanyaannya.

    [mudah2an pertanyaan ibu terjawab]

 

Leave a Reply to this Post

*


    Statistik Blog