Ketika Suntik Insulin Jadi Pilihan Penderita Diabetes | Info Diabetes Mellitus

Ketika Suntik Insulin Jadi Pilihan Penderita Diabetes

December 30th, 2009 | Visited 56711 times, 1 so far today 0 Comments

insulinTerapi insulin masih belum populer di kalangan penyandang diabetes. Padahal ini salah satu jalan yang cukup efisien.

Boleh jadi, hanya kuda lumping yang bisa menandingi kebandelan diabetes. Dia turun-naik, sabet kiri-kanan, tak keruan. Kibasannya yang begitu liar telah memakan korban ratusan juta orang di seluruh dunia.

Andriyanto, 40-an tahun, adalah salah satu yang terkena kibasannya. Sejak lima tahun lalu pengusaha di Surabaya ini didiagnosis terkena diabetes atau lazim dikenal sebagai kencing manis. “Sejak itu, saban hari saya minum pil,” katanya.

Awalnya, pil masih bekerja dengan baik mengendalikan kadar gula darah Andriyanto. Tapi, melewati tahun keempat, aneka rupa pil yang diresepkan dokter tak lagi berfungsi. Kadar gula darahnya tetap bergejolak melampaui level 200 miligram per desiliter darah. Jauh dari kadar aman, yakni 120-140 miligram.

Kemudian, seorang dokter menganjurkan agar Andriyanto menyetop minum pil. Sebagai gantinya, setiap hari dia mesti menyuntik diri sendiri dengan insulin demi mengendalikan kadar gula darah. Andriyanto tidak serta-merta setuju. “Repot,” katanya, “mosok nyuntik dewe saben dino (masak, menyuntik diri sendiri setiap hari?Red.).”

Memang, injeksi insulin bukan terapi yang populer di kalangan pengidap diabetes. Kerepotan teknis menyuntik diri sendiri masih pekat membayang. Padahal, “Prosedur nyuntik itu gampang. Cuma butuh beberapa kali latihan, pasien dijamin fasih menyuntik diri sendiri,” kata Profesor Hendromartono dari Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Apalagi, dengan peralatan canggih yang kini sudah beredar di pasaran, prosedur injeksi insulin bukanlah soal yang ruwet.

Percakapan mengenai manfaat suntikan insulin ini disampaikan dalam sebuah seminar diabetes yang digelar Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) di Surabaya, dua pekan lalu. Seminar itu dilakukan dalam rangka peringatan Hari Diabetes Nasional yang jatuh tiap tanggal 12 Juli.

Diabetes (lengkapnya diabetes mellitus), Profesor Hendromartono menjelaskan, adalah penyakit yang bersumber pada ketidakberesan pengolahan glukosa. Ada dua sumber ketidakberesan ini. Pertama, pada diabetes tipe 1, organ pankreas sama sekali tidak memproduksi insulin?hormon yang bertanggung jawab pada pengolahan gula?yang bertugas mencerna gula dalam makanan dan mengubahnya menjadi energi. Pasien diabetes tipe ini, tak bisa tidak, membutuhkan suntikan insulin sepanjang umur.

Berikutnya, pada diabetes tipe 2, produksi insulin terganggu karena gaya hidup yang cuek pada nilai-nilai kesehatan. “Mayoritas, 95 persen, pasien diabetes di Indonesia termasuk yang tipe 2 ini,” kata Dr. Sugianto Wibisono, ahli endokrinologi dari RS Adi Husada, Surabaya.

Bertahun-tahun gaya hidup sembrono, menyantap makanan yang full gula, kurang olah raga, dan istirahat yang jauh dari cukup, membuat organ pankreas berteriak kelelahan. Organ ini menjadi lelet, tak sanggup lagi memproduksi hormon insulin dalam jumlah cukup. Akibatnya, pasokan gula dalam makanan tak bisa dicerna dan menumpuk dalam darah.

Dalam jangka panjang, tumpukan itu berisiko menyulut luka gangren pada kaki, kebutaan, impotensi, gagal ginjal, pengerasan pembuluh darah jantung (aterosklerosis), sampai serangan stroke yang fatal. Menurut catatan International Diabetes Federation (IDF), diabetes berada di peringkat keempat penyebab kematian di negara maju. Sementara itu, sebagian pasien, 30-40 persen, harus menjalani cuci darah (hemodialisis) seumur hidup.

Sugianto menambahkan, prinsip terapi pada pasien diabetes sepenuhnya bersandar pada empat pilar. Pertama, pengaturan makanan. Kedua, olah raga yang tak boleh kelewat berat tapi teratur. Ketiga, obat-obatan anti-diabetes. Keempat, penyuluhan yang memadai. “Langkah terakhir ini amat penting,” kata Sugianto. Dengan model penyuluhan yang dikemas dalam model diskusi intensif dokter-pasien, pasien diajak aktif memperbaiki gaya hidup secara menyeluruh. “Diabetes memang penyakit yang tak bisa disembuhkan,” kata Sugianto. “Dia hanya bisa dikendalikan dengan gaya hidup sehat.”

Hanya, kerap kali muncul persoalan ruwet. Gaya hidup sudah berangsur-angsur diperbaiki, makanan bergula sudah dibatasi, olahraga sudah rajin digeber, obat pengendali kadar gula telah pula diminum teratur. Tapi, seperti yang dialami Andriyanto, lonjakan gula darah tak kunjung bisa dijinakkan. Apa sebab?

Dr. Pandji Mulyono, ahli diabetes dari Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan, Surabaya, memberikan penjelasan. Obat anti-diabetes dibuat dengan prinsip kerja mendorong sel-sel pankreas menghasilkan insulin. Pada tahap-tahap awal, dorongan dan komando ini bekerja cukup efektif. Namun, setelah berbilang tahun, pankreas bisa kelelahan. Obat-obatan yang membawa komando dan instruksi mencetak insulin pun dicuekin saja. Akibatnya, ya itu tadi, “Obat jalan terus tapi gula darah tetap tinggi,” kata Pandji.

Nah, pada kondisi pankreas yang kelelahan bertahun-tahun dihantam obat, dokter bisa menyarankan agar pasien beralih ke injeksi insulin. Dengan cara ini, “Sel-sel pankreas dibiarkan ngaso,” kata Pandji. Sementara pabrik overhaul, kebutuhan tubuh akan insulin dipasok dari luar. Beberapa bulan kemudian, bila kondisi pankreas sudah kembali fit, injeksi insulin bisa saja ditinggalkan dan pasien kembali minum obat.

Memang, tidak jarang muncul ketakutan pasien. Maklumlah, terapi injeksi insulin menuntut kedisiplinan pasien menjalankan pengaturan makan. Bila tidak hati-hati, misalnya sampai lupa makan sampai berjam-jam, bisa muncul hipoglikemi atau kemerosotan gula darah secara ekstrem. Kondisi ini bisa mengakibatkan jantung berdebar-debar, kesadaran melayang, dan bahkan koma. Risiko inilah yang membuat banyak pasien?juga dokter?enggan menjalani dan menganjurkan terapi injeksi insulin. Padahal, semakin gula darah dibiarkan bergejolak liar tanpa intervensi insulin, semakin besar risiko dihadapi pasien.

Dr. James Hajadi, dari PT Aventis Pharma, membenarkan adanya risiko hipoglikemi bagi pasien yang menjalani terapi suntikan insulin. Selain karena faktor kedisiplinan makan, risiko juga dipicu oleh sifat insulin yang selama ini diproduksi industri farmasi. Insulin, contohnya yang bernama ilmiah neutral protamine hagedorn (NPH), bekerja secara tidak konstan. Dia hanya bekerja efektif pada saat-saat tertentu, yakni 3-5 jam setelah disuntikkan. Bila disuntikkan menjelang makan malam, boleh jadi si pasien akan mengalami hipoglikemi pada saat tidur.

Belakangan, para ahli merintis penggunaan insulin glargine, yang lebih menyerupai insulin alami. Produk ini bekerja konstan. “Insulin dilepaskan ke dalam tubuh perlahan-lahan dan terus-menerus dalam 24 jam,” kata James. Walhasil, risiko hipoglikemi mendadak bisa ditekan.

Namun, biarpun injeksi insulin glargine lebih stabil dan aman, ada satu catatan yang wajib diperhatikan. Pasien diabetes tetap tidak boleh mengabaikan pengaturan makanan yang sudah diatur oleh dokter. “Yang ini enggak bisa ditawar,” kata Sugianto. Bila tetap bandel, injeksi insulin dan terapi apa pun tak bakal berguna menolong pasien diabetes.

Akan halnya Andriyanto, setelah menimbang kiri-kanan, dua bulan lalu dia memutuskan untuk memilih injeksi insulin. Ternyata, “Gampang,” katanya, “Nyuntiknya ndak susah.” Lebih dari itu, badannya terasa lebih bugar, lebih nyaman, dan segar. Berbagai keluhan yang dibawa diabetes, penglihatan kabur, pusing, lemas, hilang menguap. Katanya bernada menantang, “Sekarang, saya siap melakukan apa saja.”

Contoh alat dan pompa insulin dapat dilihat di Gallery Foto

Demikian informasi tentang Ketika Suntik Insulin Jadi Pilihan Penderita Diabetes. Semoga bermanfaat bagi Anda.

Pesan artikel via email

Pastikan selalu mendapatkan update terbaru dari blog ini, Masukkan email Anda: (Email Anda akan kami rahasiakan).

Jangan lupa lakukan konfirmasi di email Anda.

Leave a Reply to this Post

*

Facebook Fans Page
Kategori

Statistik Blog